Daya Tarik yang Dimiliki Taman Purbakala Waruga Sawangan
1. Peninggalan Masa Megalitikum
Ketika mampir ke Taman Purbakala Waruga Sawangan, Anda dapat situs slot gacor 2024 disuguhkan bersama deretan peti kuno. Berbagai peti ini terbuat berasal dari besi terhadap jaman megalitikum. Masa megalitikum merupakan jaman di mana manusia memasuki zaman batu besar. Di sini manusia udah bisa memicu warisan budaya menggunakan bebatuan besar.
Kuburan di sana tercipta bersama keahlian khusus, menggunakan batu berongga setinggi satu meter. Kuburan bernama Waruga ini bisa menampung banyak mayat, yakni hingga 12 mayat yang termasuk satu keluarga. Selain bebatuan, di sana termasuk tersedia tanaman yang udah berumur tua.
2. Memiliki Nilai Seni yang Tinggi
Karena udah memasuki jaman joker gaming megalitikum, taman di sana bukan hanya berupa bebatuan. Tetapi tersedia hiasan yang menempel di dinding dan di bagian atas kuburan. Di bagian atas kuncup kuburan tersedia garis yang menandakan kuantitas moyangnya. Selain itu, tersedia termasuk gambar yang jadi Info keluarga pemilik kuburan. Seperti gambar sapi yang menandakan seorang pemburu.
Selain terdapatnya hiasan-hiasan di atas. Penataan letak Waruga termasuk sangat rapi dan sedap dipandang. Ini memicu kuburan jadi terlihat rapi dibandingkan kuburan di jaman sekarang. Tidak hanya kuburan, tanaman di sekitarnya termasuk diatur bersama rapi.
3. Budaya Indonesia yang Unik
Wisata di Minahasa ini termasuk peninggalan budaya yang unik. Dengan mampir ke wisata sperti ini, Anda bisa belajar kebudayaan yang belum tentu tersedia di area lain. Apalagi terkandung salah satu Waruga yang terbuka dan kita bisa menyaksikan bagian dalamnya tanpa menyebabkan kerusakan Waruga. Sayangnya, berasal dari 144 Waruga, hanya 33 yang bisa dipelajari oleh para ilmuwan dikarenakan banyak yang udah pudar.
4. Memiliki Cerita di Baliknya
Sama bersama peninggalan peristiwa lainnya, Taman Purbakala Waruga Sawangan ini termasuk mempunyai kisah di balik berhentinya masyarakat memicu Waruga. Ternyata, Waruga tertua di desa ini udah berdiri megah sejak zaman ke-8 Masehi. Awal mulanya, waruga tersebar di seluruh wilayah desa.
Namun, terhadap abad ke-18, para koloni Belanda menghendaki warga untuk berkumpul dan merubah kebiasan menyebar Waruga di pemukiman. Sejak itu, Waruga mulai dikumpulkan terhadap satu tempat, layaknya kuburan yang biasa kita temukan. Alasannya, sehingga tidak mengakibatkan penyakit yang menular terhadap warga.